Pengunjung

free counters

Wednesday, March 20, 2013

Misteri Penderitaan, Yang Telah Tersibak

Di antara semua misteri kehidupan yang ada di Alam Semesta ini, penderitaan merupakan suatu misteri kehidupan yang terpelik dan terumit. Betapa tidak! Ada banyak orang yang bahkan masih meragukan eksistensi penderitaan itu sendiri, apakah memang betul-betul ada ataukah hanya semata-mata berfungsi sebagai pengungkap lawan-kata kata "kebahagiaan". Padahal, eksistensi penderitaan ini sebenarnya boleh dianggap sebagai sisi yang paling dasar jika dibandingkan dengan banyak sisi lainnya. Dengan bersumber acuan pada Kitab Suci Tipitaka Pâli, semua sisi itu secara garis besarnya akan diungkap melalui artikel di bawah ini. Selanjutnya, setelah artikel ini selesai disimak dan dipahami dengan seksama, pertanyaan-pertanyaan yang bernada seperti: Memang ada penderitaankah? Apakah penderitaan itu? Dapatkah penderitaan itu dilenyapkan? bagaimanakah cara melenyapkannya? Siapakah sesungguhnya yang berhasil melenyapkan penderitaan itu? Dan banyak rentetan pertanyaan lain; diharapkan tidak akan mencuat lagi di benak umat Buddha khususnya, dan umat manusia umumnya.

        Penderitaan adalah suatu misteri kehidupan yang sangat sulit dipecahkan. Kapan misteri ini mulai muncul dan mengisi Alam Semesta ini belumlah dapat dipastikan. Yang jelas, misteri ini tidak pernah menjadi catatan yang basi dalam sejarah perjalanan Alam Semesta ini.
        Makhluk hidup, sebagai penghuni Alam Semesta, tentu saja mempunyai kaitan dan hubungan erat dengan penderitaan. Dengan perkataan lain yang lebih jelas, dapatlah dinyatakan bahwa penderitaan adalah persoalan tunggal yang dihadapi setiap makhluk. Sejak dini sekali, penderitaan telah bercengkerama dengan semua makhluk hidup. Kekuasaannya tidak hanya terbatas pada makhluk-makhluk hidup yang masih lugu di zaman baheula saja. Tetapi, lebih dari itu, penderitaan masih tetap merajalela pada zaman apa pun dan di mana pun juga. Selama masih ada kehidupan, penderitaan selalu dapat dikenali dan dijumpai. Ketidak-hadirannya berarti tidak adanya kehidupan. Semua waktu yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup tersita untuk melayani ulahnya yang sesungguhnya sangat menjengkelkan itu. Tetapi, penderitaan tidak pernah peduli dengan semua itu. Penderitaan seakan-akan tidak pernah merasa bosan dan jemu dengan tampang-tampang menyedihkan yang terlukis dan tergurat secara jelas maupun samar-samar pada setiap makhluk hidup. Tampaknya, penderitaan tidak ingin dikubur atau dilupakan begitu saja. Hasrat untuk dapat selalu hadir di tengah-tengah makhluk hidup terasa berat untuk dilepaskan.
        Dalam menentukan mangsanya, penderitaan sama sekali tidak pernah pandang bulu. Apakah makhluk hidup itu tinggal di Alam Neraka, Alam Setan, Alam Binatang, Alam Raksasa, Alam manusia, Alam Surga[1], maupun di Alam Brahma; kesemuanya berada di dalam cengkeramannya yang mengerikan.
[1] Tanpa meneliti definisi kata "Surga" berdasarkan kata induknya, "SVARGA" (sanskrit), banyak orang menganggap Alam ini sebagai suatu Alam yang kekal; yang di dalamnya terdapat kehidupan bahagia yang abadi. Tampaknya, masih banyak orang yang terperangkap oleh perwujudan semu penderitaan sebagai "kesenangan sesaat". Berkenaan dengan hal ini, Prof. Rhys Davids, Ph.D. mengomentari, "Untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan, Sang Buddha menyatakan bahwa para dewa/gods —makhluk yang tinggal di Alam Surga— juga membutuhkan Kebebasan Sejati bagi diri mereka sendiri!"
        Secara teoritis, penderitaan dapat dipilih menjadi tiga bagian, yaitu: penderitaan sebagai derita biasa, penderitaan sebagai akibat dari perubahan, dan penderitaan sebagai akibat dari keadaan yang berkondisi. Adapun penampilannya dalam kehidupan sehari-hari, penderitaan jenis pertama terwujud dalam bentuk: kelahiran; usia tua; kesakitan; berkumpul dengan yang tidak disenangi; terpisah dari yang dicintai; tidak mendapatkan apa yang didambakan; kesedihan; keluh-kesah; kekecewaan; gangguan fisik maupun mental; dan kematian. Penderitaan jenis kedua mencakup semua keadaan yang terpengaruh oleh hukum perubahan. Penderitaan jenis terakhir timbul sebagai akibat dari tidak adanya inti yang kekal dari unsur-unsur yang membentuk setiap makhluk hidup, yaitu: badan jasmani, perasaan, pencerapan/ingatan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran; yang secara garis besarnya lebih dikenali sebagai unsur jasmani dan unsur batin.
        Bertolak-belakang dengan kecenderungan umat manusia pada umumnya, yang seakan-akan menyembunyikan adanya penderitaan dengan mengkhayalkan keselamatan-keselamatan semu yang diharapkan akan dapat dicapai setelah kematian, Sang Buddha mengakui keabsahan penderitaan sebagai suatu keadaan-tetap yang mewarnai kehidupan ini. Bahkan Beliau memaparkan bukti-bukti nyata tentang adanya penderitaan. Pemahaman tentang adanya penderitaan itulah yang justru menjadi salah satu sebab yang membuat Beliau berani menyatakan diri kepada dunia dan kepada semua makhluk bahwa Beliau telah mencapai Pencerahan Agung (Anuttara Sammasambodhi). Tanpa memiliki pengetahuan dan pengertian tentang hal itu, Sang Buddha tidak akan menyatakan diri sebagai Sammasambuddha[2]. Kepada seorang brahmana yang bernama Sela, Sang Buddha menyatakan:
"Saya telah memahami apa yang seharusnya dipahami. Apa yang seharusnya dikembangkan telah Saya kembangkan, dan apa yang seharusnya dilenyapkan telah Saya lenyapkan. Oleh karena itulah, O Brahmana, Saya menjadi Buddha". (Sutta Nipata 558).
[2] Sammasambuddha adalah suatu sebutan bagi seseorang yang berhasil mencapai Pencerahan Agung dengan kemampuan, usaha dan kekuatan sendiri. Tingkatan ini sama sekali tidak pernah dimonopoli oleh Sang Buddha Gautama. Tidak ada pendiri agama selain Sang Buddha pernah menyatakan bahwa para pengikut-Nya mempunyai kesempatan untuk mencapai kedudukan yang sama dengan pendiri-Nya!
        Melihat kehidupan ini sebagai suatu keadaan yang diliputi oleh penderitaan tidaklah menandakan bahwa seseorang itu bersifat pesimistis karena penderitaan itu memang benar-benar ada. Sebaliknya, mengingkari adanya penderitaan dapat dianggap sebagai tindakan yang sama pengecutnya dengan memalingkan diri dari fakta yang dihadapi. Pesimistis sebenarnya adalah suatu sikap yang putus asa dan pasrah dengan segala keadaan menderita yang dialami; tanpa suatu usaha untuk berjuang mengatasi dan mengubahnya. Sikap hidup yang memprihatinkan itu pada dasarnya timbul karena tidak adanya keyakinan akan kemampuan diri sendiri dan sedikit banyak karena teracuni oleh aci-acian sesat yang beranggapan bahwa kehidupan setiap makhluk telah ditentukan dan digariskan terlebih dahulu oleh sesuatu yang berada di luar dirinya.
        Sang Buddha dapat dianggap sebagai seorang pesimistis apabila Beliau hanya mengajarkan eksistensi penderitaan. Dalam realitas, dengan pelbagai cara Beliau telah menunjukkan serta membuktikan adanya kemampuan laten umat manusia dan makhluk-makhluk lain untuk bebas dari cengkeraman penderitaan pada kehidupan sekarang ini juga —tanpa harus menunggu ajal. Inilah perbedaan radikal antara Kebebasan Sejati yang diajarkan oleh Sang Buddha— dengan keselamatan semu yang dianggap dapat dicapai setelah kematian.
        Para cendekiawan di abad-abad sekarang ini —yang cenderung untuk menerima segala sesuatu berdasarkan pada pengertian empiris, tentu akan meronta-ronta jika dipaksa untuk mempercayai ataupun mengakui adanya keselamatan yang tidak dapat dibuktikan secara nyata dalam kehidupan ini. Dapat diperkirakan bahwa tidak begitu lama lagi ceritera-ceritera fiksi yang mengisahkan kehidupan abadi setelah kematian hanya diperlukan sebagai sajian pengisi waktu senggang bagi anak-anak kecil yang masih gemar mengkhayal, tetapi tidak cukup berbobot untuk meyakinkan —apalagi memuaskan— para pemikir modern yang rasionalistis dan realistis. Alam pemikiran modern kini rupanya telah banyak berubah sehingga tidak bersedia lagi memberikan tempat bagi ceritera-ceritera fiksi semacam itu sebagai doktrin-doktrin keagamaan. Fakta dan fiksi memang seharusnya dipisahkan, dan diperjelas batas-batasnya. Ajaran-ajaran yang tidak sanggup merealisasikan tugas ini, pasti tidak mampu mengimbangi derap kemajuan kecerdasan berpikir umat manusia. Pembelaan yang bernada seperti "Kebenaran agamis itu harus diterima berdasarkan pada iman atau kepercayaan saja; tidak boleh atau tidak dapat dijajaki dengan rasio, logika serta kecerdasan", dinilai tidak lebih hanyalah sebagai suatu sikap pelarian diri dari keadaan terpojok.
        Agama Buddha tidak menganak-emaskan rasio, logika dan kecerdasan dengan menyatakan bahwa kebebasan dari penderitaan dapat diraih dengan tiga hal itu saja. Pencapaian Kebebasan Sejati itu berada di luar jangkauan rasio, logika dan kecerdasan. Namun, hal ini bukan berarti bahwa pencapaian Kebebasan Sejati itu bertentangan dengan rasio, logika dan kecerdasan. Rasio, logika dan kecerdasan diakui sebagai penghantar awal bagi pencapaian itu, sedangkan Kebijaksanaan dan Pengertian Empiris adalah puncaknya. Dalam Sutta Nipata 839 tertulis:
"Bukan karena pandangan-pandangan, tradisi-tradisi, pengetahuan semata-mata ataupun karena kebajikan dan kecerdasan, maka Kebebasan Sejati dapat dicapai. Tetapi, bukan juga tanpa pandangan-pandangan, tanpa tradisi-tradisi, tanpa pengetahuan, tanpa kebajikan dan tanpa kecerdasan, bahwasanya Kebebasan Sejati itu dapat dicapai".
        Suatu hal yang sangat mengherankan terjadi pada saat pertama Sang Buddha membabarkan Dhamma (Kebenaran) kepada lima orang pertapa yang masih meragukan dan menyangsikan pencapaian Pencerahan Agung-Nya. Walaupun sebelum kelahiran-Nya yang terakhir pernah tinggal di Alam Surga, —Sang Buddha tidak mengawali misi-Nya dengan mengisahkan kehidupan di Alam Surga; tempat di mana Beliau berasal, ataupun mempropagandakan Ajaran-Nya dengan menyatakan bahwa mereka yang mentaati serta mematuhi petunjuk-petunjuk-Nya akan dilahirkan di Alam tersebut. Beliau mengawali Ajaran-Nya justru dengan membeberkan Kesunyataan Mulia tentang penderitaan, sesuatu yang lazimnya dianggap sebagai permasalahan yang tidak enak untuk didengar, dirasakan, dialami maupun dibayangkan. Dari situ dapat dilihat dengan jelas bahwa pemahaman tentang seluk-beluk penderitaan adalah salah satu syarat mutlak pertama untuk mencapai Kebebasan Sejati. Pemahaman tentang penderitaan dapat dianggap sebagai landasan utama yang terpenting dalam pandangan hidup seorang umat Buddha. Tanpa memahami penderitaan dengan jelas dan terang, rasanya tidak mungkin seseorang dapat mencapai Kebebasan Sejati. Kebebasan Sejati merupakan konsekuensi wajar dari eksistensi penderitaan. Kalau tidak ada penderitaan, Kebebasan Sejati juga tidak mungkin ada. Oleh karena itu, sangatlah mustahil jika seseorang yang tidak menyadari bahwa dirinya pernah mengalami penderitaan dapat merasakan betapa bahagiannya Kebebasan Sejati itu. Dalam Samyutta Nikaya v. 433 terdapat sabda Sang Buddha yang memperjelas hal ini, yang tertulis demikian:
"Ia yang melihat penderitaan, juga akan melihat asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan Jalan Mulia[3] menuju lenyapnya penderitaan".
[3] Jalan Mulia ini juga sering disebut "Jalan Madya" —yang berfaktor delapan, yakni: Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata pencaharian Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar. Dalam bahasa Pali, Jalan Mulia Berfaktor Delapan ini disebut: Ariya Atthangika Magga.
        Perlu diketahui bahwa Sang Buddha hanya menunjukkan asal mula penderitaan, yaitu: nafsu keinginan akan pemuasan kenikmatan indera, nafsu keinginan akan perwujudan dan kelahiran, dan nafsu keinginan akan pemusnahan diri; bukan asal mula kehidupan. Sang Buddha tidak mencoba memecahkan semua persoalan filsafat yang membingungkan umat manusia. Beliau tidak pernah membuang waktu-Nya yang sangat berharga hanya untuk berurusan dengan teori-teori dan spekulasi-spekulasi yang tidak membawa kemajuan batin dan Pencerahan Agung. Sang Buddha bukanlah mesin komputer yang selalu dengan sukarela menjawab setiap pertanyaan yang disodorkan padanya; tanpa menghiraukan apakah jawaban yang diberikan itu akan membawa manfaat pada si penerima atau tidak. Mengetahui asal mula kehidupan bukanlah suatu jaminan bagi seseorang untuk mencapai Kebebasan Sejati. Oleh karena itu, Sang Buddha tidak menaruh perhatian pada masalah yang tak berfaedah itu.
        Pada suatu ketika, sewaktu tinggal di Kosambi di hutan Simsapa, Sang Buddha memungut segenggam daun yang terjatuh dari pohon, lalu bertanya kepada para bhikkhu,
        "Bagaimana pendapatmu, O para bhikkhu, manakah yang lebih banyak, daun-daun yang ada di tangan-Ku ini, ataukah daun-daun yang masih ada di pohonnya di hutan ini?"
        "Tentu lebih banyak yang masih di pohonnya di hutan ini", jawab para bhikkhu.
        Beliau kemudian bersabda, "Demikian juga, O para bhikkhu, masih sangat banyak hal-hal yang Saya ketahui, tetapi tidak Saya terangkan kepadamu. Apakah sebabnya Saya tidak membabarkannya? Hal-hal itu, O para bhikkhu, sesungguhnya tidak berguna, tidak penting dalam menempuh kehidupan suci, tidak membawa tanpa-kemelekatan, tanpa nafsu indera, penghentian, ketenangan, pengertian-sempurna, pencerahan agung, dan Kebebasan Sejati. Kemudian, O para bhikkhu, apakah yang telah Saya babarkan padamu? Penderitaan, asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan Jalan Mulia menuju lenyapnya penderitaan itulah yang telah Saya babarkan kepadamu!" (Samyutta Nikaya v. 437).
        Alih-alih membiarkan para pengikut-Nya terperangkap dalam spekulasi tentang asal mula kehidupan, Sang Buddha menasehatkan para pengikut-Nya untuk selalu bersemangat dalam berjuang mengatasi penderitaan.
        Penderitaan baru dapat diatasi setelah seseorang melenyapkan sebab-sebab yang mendorong dirinya mengalami proses kelahiran yang tiada hentinya. Amat sia-sialah jika seseorang mendambakan kebebasan dari penderitaan dengan masih memegang erat-erat keinginan untuk hadir dalam kehidupan ini. Keinginan akan perwujudan atau kelahiran adalah salah satu sebab yang menyeret seseorang untuk bertumimbal-lahir.
        Dalam Dhammapada XXIV: 9 tertulis:
"Makhluk-makhluk yangterikat pada nafsu-nafsu keinginan, berlarian kian kemari seperti kelinci yangterjebak. Karena terikat erat-erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan, mereka mengalami penderitaan berulang kali dalam waktu yang lama".
        Jika pengertian seperti ini telah ditembus, seseorang juga tidak mungkin akan menuding-nuding makhluk lain sebagai penyebab penderitaan bagi dirinya. Pelimpahan kesalahan kepada makhluk lain sebagai perwujudan dari kemiskinan tanggung jawab pribadi juga akan dapat dihindarkan. Satu kali pun Sang Buddha tidak pernah menganggap penderitaan sebagai pelampiasan kebencian suatu makhluk yang tak bertanggung jawab. Alih-alih menggambarkan penderitaan sebagai akibat dari suatu "kutukan" tak terampunkan, ataupun sebagai penentuan "nasib" yang tak dapat diganggu gugat; yang harus diterima "tanpa komentar" dan "tanpa syarat", Sang Buddha menyatakan penderitaan sebagai akibat dari kebodohan batin sehingga makhluk hidup terjerumus dalam pemuasan tiga macam nafsu keinginan. Lebih lanjut, Beliau juga menyingkirkan anggapan sesat sementara orang bahwa dunia ini terciptakan sebagai tempat "pengujian" dan "peradilan" moral bagi umat manusia. Agaknya cukup naif seseorang memberikan komentar bahwa, "Jika kehidupan ini berjalan sesuai dengan takdir atau nasib, maka dunia ini sesungguhnya tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara; di mana umat manusia dan makhluk lain dipaksa untuk memerankan suatu drama kehidupan yang mengharukan yang menuntut mereka berlari tunggang-langgang dalam lumpur kesedihan dan jurang penderitaan".
        Bertitik-tolak dari sabda suci yang tercantum dalam Samyutta Nikaya v. 433, dapatlah disimpulkan bahwa keempat Kesunyataan Mulia yang dibabarkan pertama kali di Isipatana di Migadaya itu saling berkaitan dan bergantungan satu dengan yang lain. Keempatnya tidak dapat dipisahkan datu dengan yang lain. Empat Kesunyataan Mulia adalah suatu analisa praktis tentang misteri penderitaan yang telah lama terkubur di Alam Semesta ini. Pola berpikir yang sistematis itulah yang dewasa ini sering kali diterapkan oleh banyak ilmuwan terkemuka dalam melakukan penelitian-penelitian dan pengkajian-pengkajian ilmiah. Oleh karena itu, agaknya tidak terlalu berkelebihan jika dalam bahasa Pali, Sang Buddha sering disebut "bhisakko" yang berarti "Tabib Agung yang tiada bandingnya". Berkisar pada masalah ini, dalam salah satu karya tulisnya yang berjudul "Great Personalities on Buddhism", Ven. Dr. K. Sri Dhammananda tidak lupa menyitir kata-kata Dr. Edward Conze yang menyatakan bahwa sebagaimana seorang dokter yang pertama-tama harus menentukan diagnosa penyakit, kemudian menemukan penyebabnya, merenungkan kesembuhannya, dan akhirnya mempergunakan obatnya; demikian pula halnya dengan yang dilakukan Sang Buddha. Beliau telah membabarkan Empat Kesunyataan Mulia —yang menunjukkan bentuk-bentuk penderitaan, asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan Jalan Mulia menuju lenyapnya penderitaan".
        Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, Sang Buddha menegaskan bahwa Kesunyataan Mulia tentang penderitaan itu harus dipahami (parinneyya), asal mula penderitaan itu harus dilenyapkan (pahatabba), sedangkan Jalan Mulia menuju lenyapnya penderitaan itu harus dikembangkan (bhavetabba). Dengan memahami Kesunyataan Mulia tentang penderitaan; dengan melenyapkan asal mula penderitaan; dan dengan mengembangkan Jalan Mulia menuju lenyapnya penderitaan, seseorang akan mencapai (saccikatabba) Kebebasan Sejati dari penderitaan (Nibbana). Kebebasan Sejati tidak pernah dan tidak akan pernah dapat dicapai dengan diratapi, ditangisi, direnungi maupun dengan berdoa, bersembahyang serta mempersembahkan sajian kurban.
        Empat Kesunyataan Mulia yang dapat menimbulkan Pandangan (Cakkhu), Pengetahuan (Nana), Kebijaksanaan (Pañña), Penembusan (Vijjâ) dan Pencerahan (Âloko) itu jelas membutuhkan kemandirian dari masing-masing individu. Dalam Anguttara Nikaya ii. 48 tertulis penjelasan lebih lanjut Sang Buddha berkenaan dengan hal ini, yang berbunyi demikian:
"Dalam tubuh yang panjangnya sepadem ini, beserta kesadaran dan pencerapannya, Kunyatakan adanya penderitaan, asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan Jalan Mulia menuju lenyapnya penderitaan".
        Berdasarkan pada sabda suci ini, Eksistensi seorang Juru Selamat bagi umat Buddha dalam mencapai Kebebasan Sejati sangat tidak diperlukan[4]. Sang Buddha mengajarkan umat manusia untuk bersikap sebagai orang dewasa yang harus berikhtiar sendiri dalam segala hal, bukan seperti bayi cilik yang hanya untuk makan saja harus disuapi. Tampaknya, Sang Buddha sangat menghargai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk berjiwa besar yang tanggap, tangkas dan cakap dalam berupaya mencapai Kebebasan Sejati bagi dirinya sendiri dan oleh dirinya sendiri; tanpa harus merengek-rengek ataupun memelas pada makhluk lain apapun juga.
[4] Bandingkan dengan sabda suci Sang Buddha Gotama yang berbunyi: "Engkau sendirilah yang harus berusaha, Para Buddha hanyalah Penunjuk Jalan".
        Walaupun memfokuskan segala sesuatunya pada diri sendiri, Ajaran Sang Buddha kurang begitu tepat jika dianggap sebagai suatu pandangan yang Egoposentris —arus pemikiran yang cenderung berkisar pada dan ke dalam "pribadi" sendiri— karena Agama Buddha tidak mempercayai adanya atma (Ego) atau Roh yang kekal dalam diri setiap makhluk hidup.
        Anggapan ornag-orang tertentu bahwa di dalam diri setiap makhluk terdapat suatu atma yang bersumber dari suatu atma yang lebih tinggi (Paramatma) sebenarnya dapat dianggap sebagai manifestasi dari keadaan batin yang lemah sehingga membutuhkan suatu perlindungan yang dikhayalkan dapat membebaskan dirinya dari cengkeraman penderitaan.
        Uskup Berkeley pun telah mengakui bahwa apa yang disebut atom —yang di dalamnya dianggap terdapat suatu inti spritual yang disebut Roh— itu sesungguhnya hanyalah suatu fiksi metafisik. Profesor James kemudian menambahkan, "Sejauh berkenaan dengan pembuktian fakta-fakta pengalaman kesadaran yang sesungguhnya, teori Roh merupakan suatu teori yang berlebih-lebihan. Sedemikian jauh, tak seorangpun dapat dipaksa menyetujuinya demi alasan-alasan ilmiah". Sebagai jalan keluar sementara dalam menyelesaikan masalah Roh, ia menyimpulkan, "Pikiran itu sendiri adalah sang pemikir".
        Tetapi, seseorang mungkin akan menyangsikan, "Kalau memang tidak ada Roh yang kekal, lalu siapakah yang mencapai Kebebasan Sejati itu?" Suatu Roh yang kekal memang sangat diperlukan untuk menopang kepercayaan tentang adanya kehidupan abadi di Alam Surga yang kekal, dan/atau siksaan tanpa akhir dalam Neraka abadi. Namun, Kebebasan Sejati yang diajarkan oleh Sang Buddha justru tidak memerlukan hal itu karena Kebebasan Sejati bukanlah suatu Alam Kehidupan apapun juga. Kebebasan Sejati adalah suatu pencapaian yang unik; yang tak terperikan; yang hanya dapat diselami oleh mereka yang telah terbebas dari keserakahan, kebencian dan kesesatan batin.
        Untuk memberikan kejelasan mengenai pencapaian Kebebasan Sejati berkaitan dengan doktrin "tanpa Roh" (Anatta), dalam bukunya yag berjudul Visuddhi Magga, Bhikkhu Buddhaghosa menuliskan:
"Hanya penderitaan yang ada, namun tidak ada seorang pun yang menderita. Hanya perbuatan yang ada, namun tidak ada seorang pun yang berbuat. Hanya Jalan Mulia yang ada, namun tidak ada seorang pun yang berjalan di atasnya. Hanya Kebebasan Sejati (Nibbana) yang ada, namun tidak ada seorang pun yang memasukinya".
        Pernyataan ini bukanlah permainan kata-kata sebagaimana acapkali dilakukan oleh para ahli debat, tetapi merupakan filsafat Agama Buddha tertinggi yang memerlukan perenungan mendalam sehingga nantinya akan dapat mengikis habis semua aci-acian sesat yang mengkhayalkan segala sesuatu sebagai "aku", "diriku" dan "milikku".
        Kebebasan Sejati memang bukan sesuatu yang gampang dicapai, dan misteri penderitaan juga bukan sesuatu yang mudah terkuakkan. Pada galibnya, untuk dapat menyibak tabir misteri penderitaan, dibutuhkan suatu perjuangan yang maha dahsyat; suatu perjuangan yang tak tergambarkan dan tak tertandingkan; yang mungkin hanya mampu dilaksanakan oleh segelintir makhluk hidup. Sang Budha Gotama adalah salah satu makhluk hidup yang telah berhasil menyibak tabir misteri penderitaan yang telah menyelimuti Alam Semesta selama lebih dari beribu-ribu tahun, dan mampu menunjukkan Jalan yang ditempuh-Nya kepada makhluk lain. Dengan tersibaknya misteri penderitaan, berarti Beliau juga telah menyampaikan "good bye" kepada dunia yang terliputi oleh penderitaan ini. Tak tergoncangkan Kebebasan Batin yang telah dicapainya. Itulah kelahiran-Nya yang terakhir. Bagi-Nya, tidak ada lagi tumimbal lahir dalam Alam mana pun, dan dalam wujud apa pun.
        Kemunculan seorang Penyibak misteri penderitaan betul-betul merupakan suatu kejadian yang sangat langka. Menurut catatan sejarah kuno, di bumi yang sekarang ini[5], telah lahir empat orang Penyibak misteri penderitaan, dan Sang Buddha Gotama adalah orang yang keempat. Dalam catatan sejarah kuno itu juga, dituliskan bahwa sebelum bumi ini hancur, akan muncul seorang penyibak misteri penderitaan yang lain. Kemunculan-Nya tentu sangat diharapkan dan dinantikan oleh semua makhluk hidup yang batinnya waras, dan yang pasti, kehadiran-Nya di bumi ini bukan untuk "mengadili" dan "menghukum" orang-orang jahat, tetapi semata-mata untuk mengajak umat manusia dan makhluk-makhluk lain mencapai Kebebasan Sejati dari penderitaan.***
[5] Menurut pandangan Agama Buddha, bumi yang sekarang ini —yang ditempati umat manusia dan makhluk-makhluk lain— bukanlah bumi yang pertama dan bukan pula bumi yang terakhir, tetapi telah ada dan akan ada beribu-ribu bumi lain yang muncul dan hancur kembali sesuai dengan hukum perubahan dan hukum ketidak-kekalan.

Apakah dipercayai atau tidak, penderitaan; penyebab penderitaan; lenyapnya penderitaan; dan jalan menuju lenyapnya penderitaan tetap berada dalam diri makhluk hidup masing-masing.



sumber :
http://sasanaonline.tripod.com/dhamma/misteri_.htm


No comments:

Post a Comment